Duabelas Ladang

2017/02/27

Hina Matsuri bukanlah festival yang menghina

Setiap tanggal 3 Bulan Maret di Jepang diperingati sebagai Hina Matsuri atau terjemahan bebasnya Festival Hina tapi sungguh ini bukan festival yang saling menghina. Kata Hina sendiri berasal dari kata Hina Ningyo (ひな人形) atau boneka perempuan. Dan festival ini dipersembahkan untuk anak perempuan, mendoakan kebahagiaan dan kesehatannya.

 photo 43402EF9-D05E-4216-A3E8-D127BBC7770B_zpsfbrq4zoy.jpg


Saya berkesempatan untuk melihat dari dekat pameran boneka hina ini di Kanzanji Temple, Fukuroi. berangkatlah bersama 12 peserta lainnya dan didampingi Sensei. Dengan kereta JR Lokal, kami berangkat dari Stasiun Hamamatsu menuju Stasiun Fukoroi dan selanjutnya bus milik pemda menjemput kita untuk mengantar ke tempat Hina Matsuri. Ini kali kedua saya mampir kesini, sebelumnya saya ikut juga acara Hi Matsuri (Festival Api) Bulan Desember tahun lalu.

 photo DAF2425A-7B2D-47C1-9913-FEF934777FEA_zpsj1e8nchs.jpg

Festival ini dirayakan oleh setiap keluarga yang memiliki anak perempuan dengan menghias boneka hina (boneka porselen khas Jepang) dan memajangnya mulai dari bulan Pebruari sampai tanggal 3 Maret. Yang terpenting adalah menurunkan boneka hina pas tanggal 3 Maret, keterlambatan memasukkan boneka akan berakibat fatal.... sang anak akan telat atau tidak akan menikah.Yang menarik dari Hina Matsuri ini adalah cara menyusun boneka, biasanya 10 buah, yang pasti akan berbeda setiap rumahnya. Biasanya terdiri dari satu boneka pangeran, putri, 3 dayang-dayang dan 5 pemain musik. Disusun rapi bertingkat dengan asesoris lengkap.

 photo 35EA8CA5-6D73-4220-BD9E-01CC9DA6AAF0_zpsrhbbucmv.jpg

Kalo liat susunan 10 boneka lengkap sih, enak liatnya. Nah kalo ada 1200 boneka rasanya gimana? Hahahhhahaha yang pasti saya langsung teringat episode Chibi Maruko Chan yang takut sama boneka ini. Awalnya saya nggak ngerti, kan ini festival buat anak perempuan tapi kenapa anak perempuan, biasanya umuran anak SD justru pada takut sama festival ini. Ternyata oh ternyata...... tatapan mata Hina-Ningyo yang tajam emang rada-rada mengerikan sih, apalagi ada 1200 buah.... beneran kowai desu ne... Kata temen saya "me ga kowai desu" (matanya mengerikan). Saya nanya sama anak perempuan saya, mau nggak diajak liat boneka hina...kata dia nggak mau, takut. Anak jepang aja takut bu, apalagi aku...wkwkkwkwkwkwkw


 photo 876C1281-62FD-4CCD-9E8F-8D431D41934F_zpsh1ox1okx.jpg

Tanda-tanda hina-matsuri akan tiba adalah diputarnya lagu Ureshii Hina Matsuri di setiap sudut toko, juga makanan tradisional yang ada hanya pada saat festival berlangsung seperti Chirashi Sushi, Hishimochi, dan Hina arare yang gambarnya pasti pasangan boneka hina. Kalo versi moderennya sih banyak sekali boneka hina-matsuri, bahkan Micky dan Minnie pun didandani sebagai Hina-Ningyo di Disney. Selain itu hina matsuri juga sebagai tanda bahwa Musim Semi tiba dan sakura akan tiba dalam beberapa minggu.   


  • Posted by Junita Siregar at 15:35Comments(0)Japan

    2016/12/28

    Sake, the soul of Japanese Culture

    Tidak salah jika menempatkan sake menjadi soulnya orang Jepang, karena dalam setiap kesempatan, setiap waktu selalu sang sake datang menemani, baik dalam suka maupun duka. Bahkan ada kebiasaan bonenkai dan nomikai, yaitu budaya minum bersama sesama anggota keluarga, kantor maupun komunitas. Sake menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan di Jepang.

     photo 19A6EF90-63B7-4132-8578-92A7EB618FD3_zpsnu3rkdsx.jpg

    Istilah sake juga merujuk pada minuman alkohol non Jepang seperti bir, wiski, dll. Untuk produk Jepang dikenal dengan sebutan Nihon Shou. Nihon Shou berbahan dasar beras khusus yang nantinya akan diproses dan fermentasi. Mirip dengan pembuatan tape ketan hitam di Indonesia. Seluruh prosesnya sama, hanya untuk sake ditambah penambaan proses pengepulan alkohol sebagai hasil utama.


     photo 81BDB4A2-B9D3-4B3E-A2A5-289E49CC3824_zps0ha8zjcj.jpg

    Tidak semua Nihon-jin menikmati Nihon shou, karena kandungan alcoholnya yang cenderung tinggi dan rasanya lebih pahit dari jenis minuman lainnya. Walaupun orang Jepang sangat menikmati sake, tapi tanggung jawab atas meminum sake yang sangat hebat. Jangan harap mereka akan mau menyetir mobil setelah meneguk minuman keras, walaupun sedikit. Apalagi perbuatan yang melanggar aturan dan susila, Big NO! Mereka masih sadar dimana harus membuang sampah ketika akal mulai hilang. Mereka sangat mengerti peraturan dan efek yang ditimbulkan oleh alkohol.

     photo 5BCE2D52-2E6E-44C2-9242-167B76DC2094_zpsedfptsxe.jpg

    Nihon-shou pun sudah diekspor ke luar Jepang. Oleh karena itu di pabrik yang saya kunjungi ada dua versi label, bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Jika berminat untuk membeli Nihon-shou, pastikan umur telah mencapai 20 tahun. Penjual tidak segan menolak pembeli dibawah umur dan menanyakan KTP/ ID sebagai bukti tanggung jawab setelah meneguk alkohol. Dan selama saya di Jepang, belum pernah lihat ada bir/ sake di vending machine. Tidak semudah itu untuk membeli minuman beralkohol tapi sangat mudah menemukan penjualnya. Selama saya disini, kebanyakan orang minum hanya malam weekend melepas stress pekerjaan. Bukan karena nggak ada kegiatan atau kerjaan jadi minum-minum.

     photo 219B53AF-AB35-44E9-B484-C345AC034938_zpsijm3gt22.jpg

    Proses pembuatannyasake sangat higenis dan sangat bersih. Pabriknya cukup besar dan terdapat tong-tong besar berisi sake. Mau berenang... boleh asal jangan menyelam sambil minum sake aja. Sake juga sering digunakan oleh para geisha sebagai perawatan kulit dengan cara berendam dibak sake. Manfaatnya sama dengan pitera, karena sama bahan dasarnya beras.Tapi, bukankah kita juga mengenal bedak dingin dari beras untuk manfaat yang sama?

     photo A0E2D659-233D-401D-9CD7-C9B8E9FAC569_zpshpigkbyv.jpg

    Nah.... pengen tau rasanya sake? hmmm yang ini saya nggak bisa cerita deh. Tapi yang jelas selama berkeliling di sana baunya aja bikin mabok heheheh kebayang kalo sambil diminum hehehehhe.

     photo B144CB1A-B053-4DF3-8A74-F8EA886B77C4_zpseqo1m6kl.jpg

     photo 89C99E33-C2D6-4F95-9E0F-5CB42E0D2585_zpsm1zoyyyj.jpg

    Sake manis bahkan dipercaya dapat memberikan kehalusan dan kulit bercahaya. Banyak para wanita meminumnya untuk kecantikan. Tapi tetap ada aturan dalam meminumnya...dan tanggung jawab.

     photo CC0FC66F-A679-41B5-962F-884326918F09_zpsesmwosci.jpg

     photo EA2B4DE1-0538-4D4F-9783-A412906BE0E5_zpshg4winjm.jpg

     photo 08D013AA-A1B6-458C-AD60-282A643FC96E_zps1omijnhd.jpg

    Setiap malam minggu memang banyak sih liat orang lalu lalang dalam keadaan mabuk, tapi tenang, mereka nggak akan menggangu orang lain atau bertindak rese. Entah faktor disiplin yang mendarah dagingkah yang membuat mereka tetap sadar bahwa mabuk adalah untuk diri sendiri bukan mengganggu lingkungan. Hehehheheh semoga foto-fotonya nggak bikin mabuk ya...(karena kebanyakan)

     photo 34633685-9C6C-489A-A716-9D858258E601_zpsuc71jojk.jpg

     photo F605A53A-BEE6-4B69-81CA-E8F6F0694770_zpsnk5dzvuz.jpg

     photo 24DCE1BF-1336-4C49-A584-7F75908C9C75_zpsgmp7rcmp.jpg

     photo 2A24F528-AEA8-4C4E-988C-BC36F9B1526E_zpsgvsfo3ab.jpg  


  • Posted by Junita Siregar at 16:44Comments(2)JapanLifestyle

    2016/12/19

    Fukuroi no Hi-Matsuri (Festival Api Di Fukuroi)

    Di penghujung tahun 2016 ini, ada festival di Fukuroi yang sangat dinanti. Hi-Matsuri atau festival api merupakan perwujudan rasa bersyukur atas tahun yang telah dilewati dan permohonan keselamatan tahun mendatang.



    Sebelum kita berangkat ke tempat matsuri, kita dikumpulkan di Balai Kota Fukuroi untuk mendapatkan penjelasan tentang acara. Diharapkan menggunakan pakaian musim dingin lengkap karena suhu yang rendah. Dan diharapkan berhati-hati dengan api yang ada saat acara.

     photo 902C4BEF-0E62-4131-B1AB-C88E498C0408_zpsxjs6kfxx.jpg

    Suhu dingin tak bersahabat ini ternyata teratasi dengan banyaknya api yang digunakan selama acara. Rangkaian acaranya dimulai dengan penyalaan api unggun dan kembang api, api yang dinyalakan dalam pedang katana dan berjalan diatas api yang dapat diikuti oleh siapapun yang hadir dalam acara ini.


     photo 881B5804-744E-41F6-8D6C-49A84F7C0015_zpstnylg4qi.jpg

    Banyak sekali lampion dan obor dinyalakan sebagai penerangan yang ada. Selain itu, petugas pemadam kebakaran pun bersiaga mengantisipasi keadaan darurat.

     photo 4E007F9C-B19A-4515-BFBE-B955A5A3A25B_zps1n2mln1t.jpg

    Pada awalnya ada rasa mencekam, karena pengalaman menonton acara tari kecak yang selalu ada unsur mistisnya. Saya sebenernya rada-rada takut sih. Tapi ternyata disini tidak ada acara yang seperti itu. Jadi asli hanya perayaan tanpa dicampur adukkan dengan unsur mistis.

     photo C2E61981-09D7-43A8-9C0C-358B1F3EBAE7_zpsm451bcpb.jpg

    Seru juga melihat acara kebudayan seperti ini, karena penduduk setempat juga sangat antusias menyambut setiap matsuri yang ada di kotanya. Nah, yang nggak sempet dateng, yuk dinikmati oleh-oleh gambar dari saya.....

     photo E944EFF2-B436-4301-844C-ECFC3B1A1D25_zpsjdphl6ji.jpg

    O iyah, saya sempet terkagum-kagum melihat anak-anak berani melangkahkan kakinya di atas api. Para orang tua pun menyemangati agar mereka selesai melewatinya. Antrian panjang untuk dapat berjalan diatas api merupakan rahasia supaya tidak merasa panas. Karena selama antri mereka harus bertelanjang kaki disuhu yang dingin plus mereka harus berdiri diatas kayu yang sedingin es. Jadi ketika mereka harus melewati api, kaki mereka tidak merasa panas tetapi berangsur-angsur hangat saja karena telah dikondisikan sebelumnya. :)

     photo 11E8466F-6B8E-47B4-A858-7941423816F1_zpsg1tcg5mc.jpg

     photo 3E71E6E2-FD24-4618-B2C1-7FA177AB365A_zpsizlagvyx.jpg

     photo 89B95520-9644-4A69-8A9D-3BACA362E006_zpsotkrrken.jpg

      


  • Posted by Junita Siregar at 18:44Comments(5)Japan

    2016/11/04

    Awal musim dingin ditemani Tulus di Hamamatsu World Music Festival 2016

    Entah kenapa tiba-tiba suhu di Hamamatsu drop secara signifikan, padahal tahun lalu rasanya saat itu saya masih bisa bertahan dengan sweater. Dingin di Hamamatsu berbeda dengan tempat lainnya karena ditambah tiupan angin dingin dari laut. Tapi sore hari ini berbeda, dingin kota hamamatsu dihangatkan dengan hadirnya Tulus. Iya bener Tulus, penyanyi Indonesia yang juga coach di acara the voice kids indonesia itu hadir menghangatkan suasana Hamamatsu yang lagi lucu-lucunya.



    Tulus di undang ke Hamamatsu dalam rangkaian acara Hamamatsu World Music Festival sebagai salah satu perwakilan dari Asia, tepatnya Indonesia. Sebagai kota musik, home of yamaha, kawaii piano dan roland, acara World Music Festival rutin diadakan dan bisa dinikmati secara gratis. Kali ini Tulus datang dengan drummer Kang Ari-Aru (para pecinnta studio aru pasti hapal dong), keyboardist dan bassistnya Kang Rudy Zulkarnaen. Nah buat yang orang bandung dan penggemar Aru Sound pasti kenal baik dengan beliau beliau ini. Kata Kang Rudy sih dinginnya suhu bikin jari-jarinya beku pas betot bass.



    Tulus menyanyikan lagu-l nya seperti Teman Hidup, Gajah, Jangan Cintai aku apa adanya. Dan yang bikin surprise Tulus menyanyikan lagu klasik Indonesia genre kroncong, Bengawan Solo. Lagu yang diciptakan Bapak Gesang ini memang salah satu lagu favorite warga Jepang, terbukti banyak yang menikmatinya ketika suara merdu Tulus mengalun. Konser diakhir dengan lagu Sepatu alias Kutsu. Lagu sepatu ini dinyanyikan dua bahasa, Indonesia dan Jepang. Kalo lagu Favorit saya sih tetep Gajah sebagai juaranya....




    Sebelum acara konser Tulus berakhir, Ikon Hamamatsu Ieyasu-Kun dan Naotora-Chan mengajak Tulus menari. Tarian ini dipandu oleh Miss Hamamatsu 2016, Yuina Okubo. Gerakannya lucu banget deh. Saya sih berharap tahun depan di World Music Festival bakal ada lagi duta musik indonesia yang bisa memeriahkan acara ini. Hmmmm punya ide nggak kira-kira siapa yang yang bakal hadir? (sambil ngarep GIGI yang manggung).




      


  • Posted by Junita Siregar at 19:26Comments(2)JapanLifestyle

    2016/10/17

    Menikmati Kesyahduan Budaya Jepang Lama di Hamakita

    Buat saya sang pecinta nyasar dan nyasab, rasanya berat kalo mau ikut gabung sama tur-tur yang ditawarkan. Soalnya kalo ikut tur biasanya nggak bisa bebas dan selalu diarahkan ke tempat souvenir shop. Tapi kali ini teman saya menawarkan tur yang jelas nggak bisa saya tolak karena dari namanya aja udah kedengeran enak, "Hamakita charm experience tour. The foreigner-friendly tour". Lagian kekepoan saya sangat besar untuk tahu apa sih yang ditawarkan sama Hamakita, tetangga kota tempat saya tinggal.

    Dengan sedikit mengorbankan waktu tidur saya, saya bergegas ke Stasiun Shin-Hamamatsu untuk mengejar akaden 0724 menuju Stasiun Gansuiji, titik kumpul tour dimulai. Di kereta saya bertemu beberapa peserta termasuk dengan Annie Liao dari Hamazo yang sebelumnya kita bertegur sapa di medsos. Didalam bus saya bertemu dengan peserta lainnya dari negara Jamaica, Tobago and Trinidad, Korea, Taiwan, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dll. Dan rute pertama dari 4 tempat yang akan dikunjungi dimulai.

     photo B13E95A9-61F9-471E-A6DB-FC5858330A00_zpsh5d7dgf9.jpg

    Tempat pertama yang akan kita kunjungi adalah Kuil Koshinji. Kuil yang dibangun 1291 tahun lalu ini mempunyai simbol yang unik yaitu kera. Disini terdapat simbol kera yang sangat populer yaitu mizaru (see no evil), iwazaru (speak no evil) dan kikazaru ( hear no evil). Dan juga satu patung kera besar yang dipercayai jika mengelus batunya dapat mengabulkan permintaan.

     photo AD72343A-326F-48EE-B6E8-EF366B28FD01_zpsykjqu4cc.jpg

    Pendeta menjelaskan seluruh silsilah dari kuil ini. Dan yang bikin saya terheran-heran jam si Bapak Pendeta...hehehhehe walaupun hidup dialam syahdu gitu tetep jam tangannya G-Shock.

     photo 514FF724-D38C-4BFC-828F-E4F25AA98D19_zpsbsv3xiyp.jpg

    Disini saya mengalami pengalaman unik yaitu meditasi Zen yang membersihkan hati, pikiran dan raga. Sayangnya saking khusunya saya sampe nggak kepikiran buat motret. Setelah selesai meditasi, kita diajak juga yoga, melemaskan badan. Hehehehhe malu ketauan nggak lentur, seluruh badan bunyi gemeretuk. Setelah selesai kita disuguhi kue cantik dalam bungkus origami burung plus greentea, Segeeeer buangeeeetttsss.

     photo 653DEF9F-6C36-4C8F-84AC-4FC481AC9294_zpsakruqtfa.jpg

    Nggak jauh dari kuil, terdapat pabrik sake Hananomai. Pabrik yang dibangun tahun1864 akhir periode Edo merupakan sejarah perusahaan Hamakita. Kata Hananomai diambil dari tarian tradisi di Tenryugawa. Saya nggak akan bahas banyak disini tentang sakenya, soalnya tempatnya sangat menarik jadi nanti saya posting sendiri. Yang jelas, makan siang dengan bento yang sangat cantik kita santap di pabrik ini sambil nyicip sake buat yang bisa dan mau.

    peserta tour hamakita




     photo 239F78F9-D041-4CBD-AEF1-23883C6226C0_zpskr47agvb.jpg

     photo 7EF4E6CF-455B-42BA-AB84-55A167C99145_zpsngwz2qih.jpg

     photo E8CFB992-4C55-40A9-AE31-4984F6D52C52_zpsi6ik9xkk.jpg


    Setelah santapan makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Nushiya Butsuguten, yang merupakan toko yang menjual berbagai keperluan untuk sembahyang di kuil Budha. Selain itu juga ini dilengkapi toko ini juga bengkel dan pelatihan untuk membuat aromaterapi. Nah, disini kita belajar membuat fragrance bags dengan keharuman yang sesuai dengan kepribadian peserta.

     photo 5D103BCC-7CFD-4A00-9F62-A9CF260A6525_zpsimx9zjhx.jpg

     photo 0E61F9F7-8697-4910-BDF5-C5F510295261_zpsg3k7hfbe.jpg

     photo 3F59F7AF-9541-4DE5-8D8D-33F3C2D5F51B_zpsogki5hrf.jpg

     photo 86F11A34-A57E-49BB-A16C-F23C1573CF1D_zpsgz3vrflc.jpg

    Akhirnya tibalah rombongan ke tempat terakhir, Hamakita City Museum. Disini kita belajar membuat kincir angin alias baling-baling bambu. Sejarahnya baling-baling bambu dibawa sama para pekerja konstruksi yang sedang memperbaiki bantaran sungai Tenryugawa yang "mengamuk" dan merusak rumah dan sawah-sawah. Saat istirahat, para pekerja tersebut membuat kincir angin dan dibagikan ke anak-anak untuk dimainkan. Seluruh peserta bisa memilih warna sesuai selera. Nah yang sudah selesai bisa eksplore isi museum dan mencoba alat tenun.

     photo 66737C7A-5DEA-467A-9375-1C75DA8E8CBC_zpsyjd0bwfx.jpg

     photo 3CDEA13E-EF8B-4133-9929-F263FF528157_zpsbbprtndm.jpg

     photo FA06BFBD-3C88-4F3F-89E9-79C9E171D637_zpsjbaxbk9s.jpg

    Dan nggak terasa acara tur sudah berakhir. Tidak perlu jauh-jauh ke prefektur lain untuk bisa mendapatkan pengalaman sejarah Jepang.Kepuasan menikmati perjalanan tergambar jelas diwajah para peserta karena selain pengalaman yang tidak terlupakan juga omiyage yang kami dapat selama mengikuti tur. Ada rasa sedih berpisah dengan teman-teman baru. Akhirnya stasiun Hamakita jadi saksi betapa senangnya kita hari ini berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. Semoga dilain kesempatan, kita bisa bertemu dan menikmati tur yang berbeda.   


  • Posted by Junita Siregar at 21:11Comments(8)Japan

    2016/10/01

    Japanese Curry yang bikin Curious

    Gara-gara lihat beberapa postingan yang bercerita tentang adanya sajian japanese curry di beberapa restoran cepat saji, jadinya pengen cerita tentang si Japanese Curry (dibaca kare カレ). Kare sampai di ke negara matahari terbit pas periode Meiji (1900-an), saat pedagang Inggris datang ke Nagasaki.Saat itu kare telah dikenal jauh oleh Bangsa Inggris karena pengaruh dari India yang merupakan negara koloni Inggris. Berhubung yang bawa orang Inggris, orang Jepang mengira bahwa kare adalah makanan barat/ asli Inggris. Sejak itulah kare dikenal luas dan beradaptasi dengan selera Jepang. Kare digemari oleh semua lapisan usia, baik muda maupun tua. Bahkan menjadi national dish di Jepang.

     photo 175A6E17-568A-40C3-8F4D-1E52E4050CF4_zpscaqqd0qg.jpg

    Sebetulnya apa sih yang membedakan Kare Jepang dengan kari lainnya? Sejauh yang saya lihat dan rasakan sih kare disini dipadukan dengan nasi, udon dan roti. Terus bahannya terdiri dari daging, sayuran (bombay, wortel dan kentang). dan juga dikombinasikan dengan katsu, Kare lebih kental bahkan berbentuk seperti vla dan rough (ragout) tapi tidak menggunakan santan ataupun yougurt seperti kari India maupun kari Indonesia. Ada dua jenis kare yang dijual di supa (supermarket), kare instan dan kare non instan.



    Karena alasan halal, kare instan dihindari karena mengandung daging dan gelatin yang tidak diketahui asal-usulnya. Jadi mau nggak mau hanya bisa menikmati kare bumbu non instatn yang dibuat dengan manual. Dengan membuat secara non instan, kita yang mengontrol asal-usul bahan-bahannya.

     photo 74832B77-F147-46BC-B6A7-513FD5963B17_zpsdublfdr9.jpg

    Bumbu kare biasa tidak menggunakan gelatin ataupun unsur daging, hanya berupa rempah-rempah saja. Kare instan ada dua jenis, K-house bentuknya bubuk dan produk S&B berbentuk blok. Sedangkan bumbu kare non instan berbentuk bubuk.



    Berikut ini resep dari website S&B food bagaimana membuat kare secara manual. Ternyata cara membuatnya hampir sama seperti membuat white sauce (bechamel sauce) atau pun cream soup yaitu dengan cara menggoreng tepung dan bumbu kari dalam minyak atau mentega. Adonan gorengan ini yang akan mengentalkan karenya.

     photo E5E08732-A875-4ED7-8A56-95D066D7036B_zpsr7yfinyq.jpg

    Modifikasi resep ala saya, Saya menumis bawang putih dan bawang bombay dahulu di margarine/ mentega,tambahkan bumbu kare, garam, merica dan gula, kemudian saya tambahkan daging ayam. Setelah daging ayam berubah warna saya tambahkan wortel dan kentang, air sampai sayuran empuk. Terakhir baru saya tambahkan tepung untuk mengentalkan kuahnya. Dan cara penyajiannya, nasi dipadatkan dalam satu sisi kemudian disiram dengan kare. Yuk silahkan di praktekkan resepnya.



    Selain resep Rice Curry, di website http://www.sbfoods-worldwide.com/recipes/curry/savory/ juga terdapat bermacam-macam variasi Kare ala Jepang yang boleh juga dicoba seperti nasi goreng kare ataupun ayam goreng kare.

     photo 81A322C2-A918-4128-95A9-2A2A40EF6C8C_zpsrlty2qlc.jpg

    Jika mie instant sudah menjadi Indonesia banget, demikian juga dengan Kare. Kare (bumbu instant) sangat populer terutama dikalangan anak muda (alias anak kos) karena kemudahan dalam membuatnya. Lihatlah keranjnag belanjaan para mahasiswa pasti ada kare instant di dalamnya hehehhehehehhe. Bahkan kare untuk anak juga tersedia. Yang membedakan hanya rasa pedesnya yang nggak kerasa, cuman aroma karenya tetep yang utama.

     photo 51116535-00D9-45A5-BD40-6CD0C487A492_zpsr5harnip.jpg

    Sepertinya bumbu kari bubuk produk Indonesia bisa juga dijadikan kari ala Jepang, karena rahasia utamanya adalah kentalnya bumbu dan tidak ada penambahan santan. Jadi kalo mo nyoba bisa juga menggunakan tanpa bumbu Jepang kok. Ada beberapa resep yang menggunakan shoyu, madu dan tomat juga, Kalo saya sih masalah selera jadi hanya pake garam dan gula tanpa tomat karena orang-orang rumah kurang suka tomat. Yuk, silahkan mencoba dan bereksperimen :)
      


  • Posted by Junita Siregar at 19:55Comments(6)JapanLifestyle

    2016/09/26

    Musik Klasik itu (tidak) membosankan

    Musik klasik dianggap sebagai musik terberat dari "genre" musik yang ada, padahal musik klasik merupakan dasar dari segala jenis musik. Dari notasi yang sederhana sampai yang superjelimet semua ada dalam musik yang dianggap paling tua ini. Bahkan para ahli neurology pun sepakat bahwa musik klasik berpengaruh terhadap kecerdasan.



    Oleh karena itu banyak sekali fim-film, mulai saja dari film cartoon ataupun film layar lebar yang menggunakan musik klasik sebagai film score. Pengaruh musik klasik terbesar yang saya dapatkan bukan dari pendidikan formal, tapi justru dari film cartoon seperti Tom and Jerry, Bugs Bunny, bahkan Walt Disney. Dari film-film cartoon itulah saya mengetahui komposisi -komposisi sebut saja Tchaikovsky’s Piano Concerto, Strauss, Beethoven, dll. (Ingat adegan Tom main piano diganggu oleh Jerry, Atau Bugs Bunny memainkan Rhapsody dengan memakan wortel, that's all folks)



    Diakhir minggu ini, saya berkesempatan untuk menonton pertunjukkan musik klasik di Act City, Hamamatsu. Act City selain dikenal sebagai gedung tertinggi di Hamamatsu, juga memiliki hall untuk pertunjukkan kelas dunia. Posisinya sangat strategis di lingkungan Hamamatsu Eki (Stasiun). Hamamatsu juga dirujuk oleh UNESCO sebagai "As a Creative City of Music" dan juga tempat lahirnya industri alat music seperti Yamaha, Kawai dan Roland. Konser musik ini sebagai salah satu cara Kota Hamamatsu menyumbang dunia musik dengan pertukaran musik-musik dari seluruh dunia. Konser music klasik dimainkan oleh Hamamatsu Philharmonic Orchestra dengan bintang tamu dari pemusik alat tiup dari Berlin Philharmonic Orchestra. Komposisi yang dimainkannya adalah Dvorak' op 44 (yang memang khusus untuk alat tiup) dan op 88. O iyah, Philharmonic Orkestra itu istilah untuk orkestra lengkap para pemain musiknya, mulai dari alat tiup, alat gesek, drum dan dipimpin oleh seorang konduktor/dirijen. Nah, kalo di taman-taman Jakarta ada musik orkestra dan Mas Addie MS sebagai konduktor (dirijen) juga boleh disebut dengan Philharmonic Orchestra.

     photo IMG_1446_zpsbtlnjr8a.jpg

    Menonton musik klasik itu pengalaman yang paling menakjubkan, setidaknya sekali dalam seumur hidup pernah mengalaminya. Alunan permainan music yang saling bergantian, menonton betapa seriusnya para pemusik, akustik yang prima, dan musik secara live. Terkadang ada efek yang menyenangkan, menakjubkan, romantis dari musik klasik.(Bahkan seakan-akan Valak hadir pun bisa hahhhahah)

    Tapi terkadang orang menilai bahwa musik klasik itu miliknya golongan tertentu, padahal nggak gitu-gitu amat sih. Jika para musisi menggunakan jas ataupun busana terbaik itu karena mereka ingin terlihat lebih rapih untuk para penontonnya.

     photo IMG_1423_zps90hpqrx9.jpg

    Menonton muski klasik itu mengasikkan asal kita mengetahui tata caranya. Ada beberapa tata tertib yang berlaku secara internasional dalam menikmati musik ini. Contohnya saat permainan musik berlangsung kita diharuskan :

    1. Tenang, tidak berisik, tidak ribut. Karena pemain musik ingin berkonsentrasi, suara dapat membuyarkannya.
    2. Tidak melakukan kegiatan apapun kecuali mendengarkan dan menikmati musik.
    3. Jangan bertepuk tangan sampai musik selesai dimainkan. Ini hal yang susah saya ikuti. Jadinya saya suka sabar menanti orang lain dan jadi follower dalam bertepuk tangan. Nggak lucu aja saya tepuk tangan sendiri... muke mo ditaro dimane.....

     photo IMG_1428_zpsff9wvelx.jpg

    Nonton musik klasik juga memisahkan kita dari gadget dan handphone. Tidak diperkenankan untuk merekam, memotret (selfie lover, big no ya) ataupun live dari konser hall (hahhaha saya ateul pengen facebook live saat itu). Selain menggangu orang lain, pemain musik, hal-hal tersebut diatas juga illegal dilakukan. Ada tindak pidananya lho. Jadi, nonton konser musik klasik memang saatnya menikmati hidup saat itu jauh dari segala gangguan. (dan biasanya saya tidur terlelap...)



      


  • Posted by Junita Siregar at 17:55Comments(14)JapanLifestyle

    2016/09/22

    Mural ekspresi kebahagiaan urang Bandung

    Memberikan kebahagiaan ternyata banyak sekali caranya, mulai yang sederhana sampai dengan yang ngejelimet dilakukan orang-orang demi kebahagiaan. Tapi gimana caraya sebuah kota memberikan kebahagiaan untuk warganya? Bandung punya gawe, melibatkan ratusan anak mudanya membuat mural sepanjang 476 meter di dinding Jalan Siliwangi.

    Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



    Proyek dengan tema Journey of Happiness ini melibatkan berbagai komunitas kreatif dan seni Bandung dengan pesan menyampaikan kebahagiaan kepada orang Bandung yang lewat jalan Siliwangi. Yang bukan orang Bandung juga boleh kok ikutan hepi imenikmati jalan siliwangi yang rindang dan nanjak.



    Bike to Work Bandung sebagai salah satu komunitas yang diundang untuk membagi kebahagiaan ini juga menyumbangkan mural dengan tema batik sepeda. Konsepnya dibuat oleh Kak/ Mas/ Bapak Andi Yudha yang dikenal sebagai tukang gambar, tukang dongeng, dan juga sebagai pawang ular (demikian yang tertera di kartu namanya). Dan beliau juga sebagai tim konseptor di proyek ini bersama dengan John Martono, Alga Indria dan IA ITB.



    Mural dibagi kedalam tiga segmen besar yaitu, Local Genius menceritakan tentang kekhasan Kota Bandung seperti kuliner, fashion, dan seni budaya. Sementara Bandung Futuristik menceritakan Bandung ke depan mau jadi apa. Kemudian untuk Back to Nature menceritakan Bandung sebagai model kota alam yang lestari.Keseluruhan segmen tersebut terbagi dalam 47 gambar.



    Seluruh partisipan Bike to Work Bandung bekerja sama menyelesaikan proyek ini dalam rentang waktu dua hari. Kegiatan yang penuh kebahagiaan ini dilakukan dengan suka cita demi menyebarkan rasa gembira untuk orang-orang yang melihat dan melaluinya



    Gambar dan motif batik Bike to Work ini sama dan sebangun dengan batik seragam yang dimiliki oleh komunitas pesepeda ini. Bike to work masuk ke dalam segemn Back to Nature sesuai dengan misi yang diembannya, memasyarakatan sepeda sebagai alat transportasi urban yang ramah lingkungan (dan ramah di kantong). Tiap helai daun berisikan gambar sepeda sebagai peralatan wajib Bike 2 Work dalam mengurangi polusi kota.



    Finishing touch mural ini tetap dilakukan oleh Mas Andi, karena menyangkut detail-detail gambar dan juga konsep-konsep dasar yang dipahami oleh Tukang dongeng Oray ini.




    Sim salabim, prok...prok..prok jadi apa......
    Yeay, muralnya udah jadi dan cantik. Oke banget nggak sih buat foto-foto disini., Tuhhhh para partisipan Bike 2 Work bergaya di depan mural hasil kerja bersama. Keren kan... Sayangnya saya sebagai ex pemegang KTP Bandung dan anggota gerombolan nggak bisa ikutan berpartisipasi dan berfoto bersama, padahal mupeng berat tuh. Nah, temen-temen yang kebetulan melintas di Jalan SIliwangi Bandung, jangan lupa ya buat melihat dan merasakan kebahagiaan dari gambar mural ini. Semoga bisa menambah semangat hari.....

    (Sumber & Foto : Gerombolan siberat "Bike2Work" chapter Bandung tercintah)
      


  • Posted by Junita Siregar at 16:53Comments(12)Lifestyle

    2016/09/17

    Back to the future.... SCMAGLEV and railway park museum

    Sisa satu tiket juhachi-kippu, diakhiri dengan manis bersama teman kampus dengan tujuan SCMAGLEV & Railway Park, Nagoya. SCMAGLEV & Railway Park adalah museum kereta milik JR (Japan Railway) yang memiliki koleksi kereta cepat mulai dari kereta api, elektrik sampai ke teknologi terkini, magnetik. SCMAGLEV adalah singkatan dari super conducting magnetic levitation. Yap bener...seperti foto levitasi yang melayang. Jadi kereta shinkansen itu nggak punya roda seperti kereta konvensional, tapi melayang diantara relnya menggunakan super konduktor magnet, sehingga bisa melaju sekencang-kencangnya.



    Untuk bisa sampai kesini, kami memulai perjalanan dari Hamamatsu Eki ke Nagoya Eki lalu meneruskan perjalanan dengan menggunakan kereta Aomori line menuju Kinjufuto Eki dengan harga 350Y sekali jalan. Dari Kinjufuto Eki, museum sudah kelihatan bentuk dan rupanya. Harga tiket museum dibandrol untuk dewasa 1000Y, anak-anak 500Y. Jika beruntung, bisa mendapatkan undian untuk ikut simulator shinkansen dan kereta konfensional.



    Setelah membeli tiket, memasuki gerbang awal, disuguhi langsung oleh 3 buah kereta legendaris Jepang, yaitu Tsubame C62, Shinkansen 300 dan Shinkansen MLX01-1. Ketiganya merupakanpemegang rekor kecepatan dengan tahun dan jenis yang bebeda. Tsubame kereta api/ uap, sedangkan shinkansen menggunakan daya listrik dan magnetik. Kita bisa masuk kedalam kereta-kereta ini dan menikmati interior dalamnya.

    rekord

    Setelah itu kita memasuki ruangan Great Rolling Stock Hall, tempat dimana seluruh koleksi kereta di pamerkan. Untuk kenang-kenangan, kita diperbolehkan berfoto di depan shinkansen dengan tanggal yang telah tersedia. Tadinya sih kita mo gaya biasa-biasanya, cuman si Mbaknya nyuruh eksyen dengan gaya hormat. Hahahahha jadinya ya kayak gini ini nih gaya kita berfoto... Keren pisan yah hihihihihi

    threestooges

    stock

    Di area ini kita bisa puas melihat kereta luar dalam mulai dari seri kereta klasik sampai shinkansen yang terbaru, bahkan yellow shinkansen aka dr yellow pun ada. Favorit saya adalah kereta shinano, kereta special rapid yang jendela sangat lebar. Paling asik naik kereta ini ke arah Nagano melintasi pegunungan Japan Alps, sungai yang bersih dan danau yang tenang. Mata jadi seger.....





    klasik

    Pemerintah Jepang sangat serius dengan transportasi kereta, karena dengan sarana ini dapat menghubungkan seluruh daerah baik di kota maupun di pelosok. Selain itu dengan kemampuan menampung penumpang yang sangat banyak, kereta menjadi andalan untuk transportasi massal.



    Salah stu ikon menarik disini adalah dr yellow, yang merupakan shinkansen pemeriksa jalur dan rel yang dilalui oleh shinkansen. Dr yellow tidak membawa penumpang, tapi membawa peralatan pemeriksa keselamatan. Kehadirannya yang tidak setiap hari membawa kepercayaan bahwa orang yang melihatnya dalam perjalanan berarti mendapat keberuntungan :)
    Selain itu di area koleksi shinkansen juga ada miniatur tiket counter,cara shinkansen bekerja, sampai kursi green car (kelas eksekutif) jadi disini kita bisa mendapatkan pengalaman mulai dari membeli tiket sampai merasakan duduk di kursi nyaman. Pokoknya sarat dengan pengetahuan deh.





    Museum ini penataannya keren dengan menggunakan cahaya alami.Jadi kalo kesorean kebayang jadi gelap dan nggak bisa liat koleksi dengan maksimal. Selain itu, museum ini mempunyai diorama stasiun di kota-kota besar jepang yang dilalui oleh shinkansen. Nah buat yang kehausan dan kelaparan jangan khawatir ada cafe, vending machine dan souvenir shop yang bisa dijajaki untuk membeli omiyage untuk keluarga tercinta di rumah.



    Yuk yang mau mampir sini saya anter.... soalnya beneran saya nggak ada bosennya untuk berkunjung kemari.
      


  • Posted by Junita Siregar at 11:41Comments(12)Japan

    2016/09/08

    Marathon Hunting Gotochi di Tiga Prefektur

    Hari ini selepas arubaito (kerja part-time) dan mumpung kuliah belum mulai, saya memulai petualangan mencari gotochi. Untuk yang suka sama postcard unik pasti tidak asing dengan istilah gotochi. Gotochi artinya lokal tapi sekarang jadi istilah kartupos berbentuk unik dengan gambar khas masing-masing prefektur di Jepang. Cara mendapatkannya pun harus mendatangi kantor pos yang berada di prefektur tersebut. Saya kenal istilah gotochi dari Una dan Kak Monda, mereka berdua penggemar berat kartu pos unik dari seluruh dunia.



    Nah, mumpung juga sisa tiket juhachi kippu belum ED (date line tanggal 10 ini, alamat harus dipake cepet-cepet daripada hangus) perencanaan dimatangkan. O iya juhachi kippu ini karcis serba 11.850Y untuk kereta JR ke seluruh sudut jepang, cuman ya nggak bisa pake shinkansen, pake kereta lokal aja yang agak-agak lama. Satu lembar tiket bisa dipake lima orang atau lima kali (hari) perjalanan kereta. Dijual selalu pada pergantian musim yang pasti tanda liburan dimulai.



    Okay tujuan saya hari ini berburu ke perfektur Gifu, Aichi dan Nagano. Saya ngebolang sendirian karena saya punya target untuk mengejar gotochi dari ke tiga prefektur tersebut. Untuk menghemat waktu, saya googling kota mana saja yang bisa saya lewati dalam satu hari ini. Akhrnya keluarlah tiga nama kota, Tadachi di Nagano, Nakatsugawa di Gifu dan Nagoya di Aichi. Dan ternyata...perjalanan kurang sedikit mulus hehehhehe ada masalah teknis tapi bikin pelajaran untuk hunting berikutnya. Hmmmm kita mulai ceritanya aja deh...

    Pertama, saya naik kereta dari Sta. Hamamatsu ke Nakatsugawa setelah 3 kali berganti kereta. Sengaja nyari kereta yang perhentiannya terakhir, karena saya pulang baito suka tertidur, jadi nggak akan bablas. Nakatsugawa ternyata kotanya asri, pemandangan gunungnya okay banget, terus masih banyak bangunan tua khas Jepang jaman Edo. Kota ini terkenal dengan kegiatan hiking nya. Hmmm kalo waktunya luang boleh juga deh saya keliling disini....



    Saya tidak sempat berlama-lama, karena tujuan saya mencari kantor pos terdekat. Voila, ketemu kantor posnya dan cukup besar. Beli seri gotochi Gifu. Yey...senangnya. Mana ada rumah gassho style khas Shirakawago.

    nakatsugawa

    Berikutnya ngejar kereta ke Tadachi-Nagano, yang ditempuh 12 menit perjalanan dari Natsugawa. Keretanya unik karena One-Man train dan stasiunnya nggak ada penjual tiket, jadi pembayaran diatas kereta. Lupa, kenapa nggak dibikin videonya ya.... Misi disini gagal..... saya tidak mendapatkan satupun gotochi Nagano Ken, akhirnya untuk partai hiburan saya beli gotochi nama kantor pos Tadachi aja deh. Ternyata, kalo kantor posnya di kota kecil, nggak selalu tersedia gotochi lengkap. Pelajaran penting, carilah gotochi di kantor pos kota besar, minimal stasiunnya ada tukang tiketnya hehehhehehhe.

    tadachi

    stasiun



    Karena Nagano nggak menghasilkan banyak gotochi, dan badan mulai cape, akhirnya diputuskan saja ke Toyohashi daripada Nagoya. Karena hasil pertimbangan kereta Toyohashi-Hamamatsu hanya sekitar 30 menit, badan juga udah cape. Udah hasil ngitung waktu tuh....eh meleset setengah jam deh. Gegara salah keluar arah stasiun tuh, jadinya dobel perjalanan. Si google map lagi diem aja udah tau kesasar jauh. Akhirnya jarak yang harusnya 800,m, jadi dobel deh 1,6Km mana sisa panas masih ada. Tapi di Toyohashi, keselnya kebayar. Ibu penjaga nya baek banget ngasih bonus mini gotochi empat plus dapet objek foto yang bagus-bagus. Pelajaran lagi....jangan percaya google map 100 persen dan kalo badan udah cape mending istirahat, pasti nyasar.



    aichi



    Nah, itu hasil hunting dan kunjungan ke kantor pos saya hari ini. Kayaknya hasilnya belum bisa nyaingin punya Una euy, kurang banyak kotanya. Hmmm lirik juhachikippu yang sisa satu lagi...kemana lagi kah kaki ini mau aku ajak melangkah? Punya ide?



    Buat temen-temen yang minat sama Gotochi, bisa intip koleksi gotochi untuk seluruh jepang di postacollet (https://www.postacollect.com/). Semoga menginspirasi dan ikut koleksi gotochi juga, minimal menginspirasi oleh-oleh dari Jepang yang berkesan. Harga gotochi perlembarnya sama rata 185yen. Hmmmm Indonesia kapan yah punya gotochi, padahal kekayaan alam dan budaya indonesia mungkin lebih keren dibuat gotochi, juga bisa kembali membuat budaya berkirim surat kembali marak di Indonesia. Hayo, kita mulai mengirim kartu pos lagi...


      


  • Posted by Junita Siregar at 09:56Comments(16)Japan