WaGoMu › Duabelas Ladang › 2016/12

2016/12/28

Sake, the soul of Japanese Culture

Tidak salah jika menempatkan sake menjadi soulnya orang Jepang, karena dalam setiap kesempatan, setiap waktu selalu sang sake datang menemani, baik dalam suka maupun duka. Bahkan ada kebiasaan bonenkai dan nomikai, yaitu budaya minum bersama sesama anggota keluarga, kantor maupun komunitas. Sake menjadi salah satu hal penting dalam kehidupan di Jepang.

 photo 19A6EF90-63B7-4132-8578-92A7EB618FD3_zpsnu3rkdsx.jpg

Istilah sake juga merujuk pada minuman alkohol non Jepang seperti bir, wiski, dll. Untuk produk Jepang dikenal dengan sebutan Nihon Shou. Nihon Shou berbahan dasar beras khusus yang nantinya akan diproses dan fermentasi. Mirip dengan pembuatan tape ketan hitam di Indonesia. Seluruh prosesnya sama, hanya untuk sake ditambah penambaan proses pengepulan alkohol sebagai hasil utama.


 photo 81BDB4A2-B9D3-4B3E-A2A5-289E49CC3824_zps0ha8zjcj.jpg

Tidak semua Nihon-jin menikmati Nihon shou, karena kandungan alcoholnya yang cenderung tinggi dan rasanya lebih pahit dari jenis minuman lainnya. Walaupun orang Jepang sangat menikmati sake, tapi tanggung jawab atas meminum sake yang sangat hebat. Jangan harap mereka akan mau menyetir mobil setelah meneguk minuman keras, walaupun sedikit. Apalagi perbuatan yang melanggar aturan dan susila, Big NO! Mereka masih sadar dimana harus membuang sampah ketika akal mulai hilang. Mereka sangat mengerti peraturan dan efek yang ditimbulkan oleh alkohol.

 photo 5BCE2D52-2E6E-44C2-9242-167B76DC2094_zpsedfptsxe.jpg

Nihon-shou pun sudah diekspor ke luar Jepang. Oleh karena itu di pabrik yang saya kunjungi ada dua versi label, bahasa Jepang dan Bahasa Inggris. Jika berminat untuk membeli Nihon-shou, pastikan umur telah mencapai 20 tahun. Penjual tidak segan menolak pembeli dibawah umur dan menanyakan KTP/ ID sebagai bukti tanggung jawab setelah meneguk alkohol. Dan selama saya di Jepang, belum pernah lihat ada bir/ sake di vending machine. Tidak semudah itu untuk membeli minuman beralkohol tapi sangat mudah menemukan penjualnya. Selama saya disini, kebanyakan orang minum hanya malam weekend melepas stress pekerjaan. Bukan karena nggak ada kegiatan atau kerjaan jadi minum-minum.

 photo 219B53AF-AB35-44E9-B484-C345AC034938_zpsijm3gt22.jpg

Proses pembuatannyasake sangat higenis dan sangat bersih. Pabriknya cukup besar dan terdapat tong-tong besar berisi sake. Mau berenang... boleh asal jangan menyelam sambil minum sake aja. Sake juga sering digunakan oleh para geisha sebagai perawatan kulit dengan cara berendam dibak sake. Manfaatnya sama dengan pitera, karena sama bahan dasarnya beras.Tapi, bukankah kita juga mengenal bedak dingin dari beras untuk manfaat yang sama?

 photo A0E2D659-233D-401D-9CD7-C9B8E9FAC569_zpshpigkbyv.jpg

Nah.... pengen tau rasanya sake? hmmm yang ini saya nggak bisa cerita deh. Tapi yang jelas selama berkeliling di sana baunya aja bikin mabok heheheh kebayang kalo sambil diminum hehehehhe.

 photo B144CB1A-B053-4DF3-8A74-F8EA886B77C4_zpseqo1m6kl.jpg

 photo 89C99E33-C2D6-4F95-9E0F-5CB42E0D2585_zpsm1zoyyyj.jpg

Sake manis bahkan dipercaya dapat memberikan kehalusan dan kulit bercahaya. Banyak para wanita meminumnya untuk kecantikan. Tapi tetap ada aturan dalam meminumnya...dan tanggung jawab.

 photo CC0FC66F-A679-41B5-962F-884326918F09_zpsesmwosci.jpg

 photo EA2B4DE1-0538-4D4F-9783-A412906BE0E5_zpshg4winjm.jpg

 photo 08D013AA-A1B6-458C-AD60-282A643FC96E_zps1omijnhd.jpg

Setiap malam minggu memang banyak sih liat orang lalu lalang dalam keadaan mabuk, tapi tenang, mereka nggak akan menggangu orang lain atau bertindak rese. Entah faktor disiplin yang mendarah dagingkah yang membuat mereka tetap sadar bahwa mabuk adalah untuk diri sendiri bukan mengganggu lingkungan. Hehehheheh semoga foto-fotonya nggak bikin mabuk ya...(karena kebanyakan)

 photo 34633685-9C6C-489A-A716-9D858258E601_zpsuc71jojk.jpg

 photo F605A53A-BEE6-4B69-81CA-E8F6F0694770_zpsnk5dzvuz.jpg

 photo 24DCE1BF-1336-4C49-A584-7F75908C9C75_zpsgmp7rcmp.jpg

 photo 2A24F528-AEA8-4C4E-988C-BC36F9B1526E_zpsgvsfo3ab.jpg  


  • Posted by Junita Siregar at 16:44Comments(2)JapanLifestyle

    2016/12/19

    Fukuroi no Hi-Matsuri (Festival Api Di Fukuroi)

    Di penghujung tahun 2016 ini, ada festival di Fukuroi yang sangat dinanti. Hi-Matsuri atau festival api merupakan perwujudan rasa bersyukur atas tahun yang telah dilewati dan permohonan keselamatan tahun mendatang.



    Sebelum kita berangkat ke tempat matsuri, kita dikumpulkan di Balai Kota Fukuroi untuk mendapatkan penjelasan tentang acara. Diharapkan menggunakan pakaian musim dingin lengkap karena suhu yang rendah. Dan diharapkan berhati-hati dengan api yang ada saat acara.

     photo 902C4BEF-0E62-4131-B1AB-C88E498C0408_zpsxjs6kfxx.jpg

    Suhu dingin tak bersahabat ini ternyata teratasi dengan banyaknya api yang digunakan selama acara. Rangkaian acaranya dimulai dengan penyalaan api unggun dan kembang api, api yang dinyalakan dalam pedang katana dan berjalan diatas api yang dapat diikuti oleh siapapun yang hadir dalam acara ini.


     photo 881B5804-744E-41F6-8D6C-49A84F7C0015_zpstnylg4qi.jpg

    Banyak sekali lampion dan obor dinyalakan sebagai penerangan yang ada. Selain itu, petugas pemadam kebakaran pun bersiaga mengantisipasi keadaan darurat.

     photo 4E007F9C-B19A-4515-BFBE-B955A5A3A25B_zps1n2mln1t.jpg

    Pada awalnya ada rasa mencekam, karena pengalaman menonton acara tari kecak yang selalu ada unsur mistisnya. Saya sebenernya rada-rada takut sih. Tapi ternyata disini tidak ada acara yang seperti itu. Jadi asli hanya perayaan tanpa dicampur adukkan dengan unsur mistis.

     photo C2E61981-09D7-43A8-9C0C-358B1F3EBAE7_zpsm451bcpb.jpg

    Seru juga melihat acara kebudayan seperti ini, karena penduduk setempat juga sangat antusias menyambut setiap matsuri yang ada di kotanya. Nah, yang nggak sempet dateng, yuk dinikmati oleh-oleh gambar dari saya.....

     photo E944EFF2-B436-4301-844C-ECFC3B1A1D25_zpsjdphl6ji.jpg

    O iyah, saya sempet terkagum-kagum melihat anak-anak berani melangkahkan kakinya di atas api. Para orang tua pun menyemangati agar mereka selesai melewatinya. Antrian panjang untuk dapat berjalan diatas api merupakan rahasia supaya tidak merasa panas. Karena selama antri mereka harus bertelanjang kaki disuhu yang dingin plus mereka harus berdiri diatas kayu yang sedingin es. Jadi ketika mereka harus melewati api, kaki mereka tidak merasa panas tetapi berangsur-angsur hangat saja karena telah dikondisikan sebelumnya. :)

     photo 11E8466F-6B8E-47B4-A858-7941423816F1_zpsg1tcg5mc.jpg

     photo 3E71E6E2-FD24-4618-B2C1-7FA177AB365A_zpsizlagvyx.jpg

     photo 89B95520-9644-4A69-8A9D-3BACA362E006_zpsotkrrken.jpg

      


  • Posted by Junita Siregar at 18:44Comments(5)Japan