WaGoMu › Duabelas Ladang › 2016/10

2016/10/17

Menikmati Kesyahduan Budaya Jepang Lama di Hamakita

Buat saya sang pecinta nyasar dan nyasab, rasanya berat kalo mau ikut gabung sama tur-tur yang ditawarkan. Soalnya kalo ikut tur biasanya nggak bisa bebas dan selalu diarahkan ke tempat souvenir shop. Tapi kali ini teman saya menawarkan tur yang jelas nggak bisa saya tolak karena dari namanya aja udah kedengeran enak, "Hamakita charm experience tour. The foreigner-friendly tour". Lagian kekepoan saya sangat besar untuk tahu apa sih yang ditawarkan sama Hamakita, tetangga kota tempat saya tinggal.

Dengan sedikit mengorbankan waktu tidur saya, saya bergegas ke Stasiun Shin-Hamamatsu untuk mengejar akaden 0724 menuju Stasiun Gansuiji, titik kumpul tour dimulai. Di kereta saya bertemu beberapa peserta termasuk dengan Annie Liao dari Hamazo yang sebelumnya kita bertegur sapa di medsos. Didalam bus saya bertemu dengan peserta lainnya dari negara Jamaica, Tobago and Trinidad, Korea, Taiwan, Vietnam, Indonesia, Malaysia, dll. Dan rute pertama dari 4 tempat yang akan dikunjungi dimulai.

 photo B13E95A9-61F9-471E-A6DB-FC5858330A00_zpsh5d7dgf9.jpg

Tempat pertama yang akan kita kunjungi adalah Kuil Koshinji. Kuil yang dibangun 1291 tahun lalu ini mempunyai simbol yang unik yaitu kera. Disini terdapat simbol kera yang sangat populer yaitu mizaru (see no evil), iwazaru (speak no evil) dan kikazaru ( hear no evil). Dan juga satu patung kera besar yang dipercayai jika mengelus batunya dapat mengabulkan permintaan.

 photo AD72343A-326F-48EE-B6E8-EF366B28FD01_zpsykjqu4cc.jpg

Pendeta menjelaskan seluruh silsilah dari kuil ini. Dan yang bikin saya terheran-heran jam si Bapak Pendeta...hehehhehe walaupun hidup dialam syahdu gitu tetep jam tangannya G-Shock.

 photo 514FF724-D38C-4BFC-828F-E4F25AA98D19_zpsbsv3xiyp.jpg

Disini saya mengalami pengalaman unik yaitu meditasi Zen yang membersihkan hati, pikiran dan raga. Sayangnya saking khusunya saya sampe nggak kepikiran buat motret. Setelah selesai meditasi, kita diajak juga yoga, melemaskan badan. Hehehehhe malu ketauan nggak lentur, seluruh badan bunyi gemeretuk. Setelah selesai kita disuguhi kue cantik dalam bungkus origami burung plus greentea, Segeeeer buangeeeetttsss.

 photo 653DEF9F-6C36-4C8F-84AC-4FC481AC9294_zpsakruqtfa.jpg

Nggak jauh dari kuil, terdapat pabrik sake Hananomai. Pabrik yang dibangun tahun1864 akhir periode Edo merupakan sejarah perusahaan Hamakita. Kata Hananomai diambil dari tarian tradisi di Tenryugawa. Saya nggak akan bahas banyak disini tentang sakenya, soalnya tempatnya sangat menarik jadi nanti saya posting sendiri. Yang jelas, makan siang dengan bento yang sangat cantik kita santap di pabrik ini sambil nyicip sake buat yang bisa dan mau.

peserta tour hamakita




 photo 239F78F9-D041-4CBD-AEF1-23883C6226C0_zpskr47agvb.jpg

 photo 7EF4E6CF-455B-42BA-AB84-55A167C99145_zpsngwz2qih.jpg

 photo E8CFB992-4C55-40A9-AE31-4984F6D52C52_zpsi6ik9xkk.jpg


Setelah santapan makan siang, perjalanan dilanjutkan ke Nushiya Butsuguten, yang merupakan toko yang menjual berbagai keperluan untuk sembahyang di kuil Budha. Selain itu juga ini dilengkapi toko ini juga bengkel dan pelatihan untuk membuat aromaterapi. Nah, disini kita belajar membuat fragrance bags dengan keharuman yang sesuai dengan kepribadian peserta.

 photo 5D103BCC-7CFD-4A00-9F62-A9CF260A6525_zpsimx9zjhx.jpg

 photo 0E61F9F7-8697-4910-BDF5-C5F510295261_zpsg3k7hfbe.jpg

 photo 3F59F7AF-9541-4DE5-8D8D-33F3C2D5F51B_zpsogki5hrf.jpg

 photo 86F11A34-A57E-49BB-A16C-F23C1573CF1D_zpsgz3vrflc.jpg

Akhirnya tibalah rombongan ke tempat terakhir, Hamakita City Museum. Disini kita belajar membuat kincir angin alias baling-baling bambu. Sejarahnya baling-baling bambu dibawa sama para pekerja konstruksi yang sedang memperbaiki bantaran sungai Tenryugawa yang "mengamuk" dan merusak rumah dan sawah-sawah. Saat istirahat, para pekerja tersebut membuat kincir angin dan dibagikan ke anak-anak untuk dimainkan. Seluruh peserta bisa memilih warna sesuai selera. Nah yang sudah selesai bisa eksplore isi museum dan mencoba alat tenun.

 photo 66737C7A-5DEA-467A-9375-1C75DA8E8CBC_zpsyjd0bwfx.jpg

 photo 3CDEA13E-EF8B-4133-9929-F263FF528157_zpsbbprtndm.jpg

 photo FA06BFBD-3C88-4F3F-89E9-79C9E171D637_zpsjbaxbk9s.jpg

Dan nggak terasa acara tur sudah berakhir. Tidak perlu jauh-jauh ke prefektur lain untuk bisa mendapatkan pengalaman sejarah Jepang.Kepuasan menikmati perjalanan tergambar jelas diwajah para peserta karena selain pengalaman yang tidak terlupakan juga omiyage yang kami dapat selama mengikuti tur. Ada rasa sedih berpisah dengan teman-teman baru. Akhirnya stasiun Hamakita jadi saksi betapa senangnya kita hari ini berjalan-jalan dan menghabiskan waktu bersama. Semoga dilain kesempatan, kita bisa bertemu dan menikmati tur yang berbeda.   


  • Posted by Junita Siregar at 21:11Comments(8)Japan

    2016/10/01

    Japanese Curry yang bikin Curious

    Gara-gara lihat beberapa postingan yang bercerita tentang adanya sajian japanese curry di beberapa restoran cepat saji, jadinya pengen cerita tentang si Japanese Curry (dibaca kare カレ). Kare sampai di ke negara matahari terbit pas periode Meiji (1900-an), saat pedagang Inggris datang ke Nagasaki.Saat itu kare telah dikenal jauh oleh Bangsa Inggris karena pengaruh dari India yang merupakan negara koloni Inggris. Berhubung yang bawa orang Inggris, orang Jepang mengira bahwa kare adalah makanan barat/ asli Inggris. Sejak itulah kare dikenal luas dan beradaptasi dengan selera Jepang. Kare digemari oleh semua lapisan usia, baik muda maupun tua. Bahkan menjadi national dish di Jepang.

     photo 175A6E17-568A-40C3-8F4D-1E52E4050CF4_zpscaqqd0qg.jpg

    Sebetulnya apa sih yang membedakan Kare Jepang dengan kari lainnya? Sejauh yang saya lihat dan rasakan sih kare disini dipadukan dengan nasi, udon dan roti. Terus bahannya terdiri dari daging, sayuran (bombay, wortel dan kentang). dan juga dikombinasikan dengan katsu, Kare lebih kental bahkan berbentuk seperti vla dan rough (ragout) tapi tidak menggunakan santan ataupun yougurt seperti kari India maupun kari Indonesia. Ada dua jenis kare yang dijual di supa (supermarket), kare instan dan kare non instan.



    Karena alasan halal, kare instan dihindari karena mengandung daging dan gelatin yang tidak diketahui asal-usulnya. Jadi mau nggak mau hanya bisa menikmati kare bumbu non instatn yang dibuat dengan manual. Dengan membuat secara non instan, kita yang mengontrol asal-usul bahan-bahannya.

     photo 74832B77-F147-46BC-B6A7-513FD5963B17_zpsdublfdr9.jpg

    Bumbu kare biasa tidak menggunakan gelatin ataupun unsur daging, hanya berupa rempah-rempah saja. Kare instan ada dua jenis, K-house bentuknya bubuk dan produk S&B berbentuk blok. Sedangkan bumbu kare non instan berbentuk bubuk.



    Berikut ini resep dari website S&B food bagaimana membuat kare secara manual. Ternyata cara membuatnya hampir sama seperti membuat white sauce (bechamel sauce) atau pun cream soup yaitu dengan cara menggoreng tepung dan bumbu kari dalam minyak atau mentega. Adonan gorengan ini yang akan mengentalkan karenya.

     photo E5E08732-A875-4ED7-8A56-95D066D7036B_zpsr7yfinyq.jpg

    Modifikasi resep ala saya, Saya menumis bawang putih dan bawang bombay dahulu di margarine/ mentega,tambahkan bumbu kare, garam, merica dan gula, kemudian saya tambahkan daging ayam. Setelah daging ayam berubah warna saya tambahkan wortel dan kentang, air sampai sayuran empuk. Terakhir baru saya tambahkan tepung untuk mengentalkan kuahnya. Dan cara penyajiannya, nasi dipadatkan dalam satu sisi kemudian disiram dengan kare. Yuk silahkan di praktekkan resepnya.



    Selain resep Rice Curry, di website http://www.sbfoods-worldwide.com/recipes/curry/savory/ juga terdapat bermacam-macam variasi Kare ala Jepang yang boleh juga dicoba seperti nasi goreng kare ataupun ayam goreng kare.

     photo 81A322C2-A918-4128-95A9-2A2A40EF6C8C_zpsrlty2qlc.jpg

    Jika mie instant sudah menjadi Indonesia banget, demikian juga dengan Kare. Kare (bumbu instant) sangat populer terutama dikalangan anak muda (alias anak kos) karena kemudahan dalam membuatnya. Lihatlah keranjnag belanjaan para mahasiswa pasti ada kare instant di dalamnya hehehhehehehhe. Bahkan kare untuk anak juga tersedia. Yang membedakan hanya rasa pedesnya yang nggak kerasa, cuman aroma karenya tetep yang utama.

     photo 51116535-00D9-45A5-BD40-6CD0C487A492_zpsr5harnip.jpg

    Sepertinya bumbu kari bubuk produk Indonesia bisa juga dijadikan kari ala Jepang, karena rahasia utamanya adalah kentalnya bumbu dan tidak ada penambahan santan. Jadi kalo mo nyoba bisa juga menggunakan tanpa bumbu Jepang kok. Ada beberapa resep yang menggunakan shoyu, madu dan tomat juga, Kalo saya sih masalah selera jadi hanya pake garam dan gula tanpa tomat karena orang-orang rumah kurang suka tomat. Yuk, silahkan mencoba dan bereksperimen :)
      


  • Posted by Junita Siregar at 19:55Comments(6)JapanLifestyle