WaGoMu › Duabelas Ladang › 2016/09

2016/09/26

Musik Klasik itu (tidak) membosankan

Musik klasik dianggap sebagai musik terberat dari "genre" musik yang ada, padahal musik klasik merupakan dasar dari segala jenis musik. Dari notasi yang sederhana sampai yang superjelimet semua ada dalam musik yang dianggap paling tua ini. Bahkan para ahli neurology pun sepakat bahwa musik klasik berpengaruh terhadap kecerdasan.



Oleh karena itu banyak sekali fim-film, mulai saja dari film cartoon ataupun film layar lebar yang menggunakan musik klasik sebagai film score. Pengaruh musik klasik terbesar yang saya dapatkan bukan dari pendidikan formal, tapi justru dari film cartoon seperti Tom and Jerry, Bugs Bunny, bahkan Walt Disney. Dari film-film cartoon itulah saya mengetahui komposisi -komposisi sebut saja Tchaikovsky’s Piano Concerto, Strauss, Beethoven, dll. (Ingat adegan Tom main piano diganggu oleh Jerry, Atau Bugs Bunny memainkan Rhapsody dengan memakan wortel, that's all folks)



Diakhir minggu ini, saya berkesempatan untuk menonton pertunjukkan musik klasik di Act City, Hamamatsu. Act City selain dikenal sebagai gedung tertinggi di Hamamatsu, juga memiliki hall untuk pertunjukkan kelas dunia. Posisinya sangat strategis di lingkungan Hamamatsu Eki (Stasiun). Hamamatsu juga dirujuk oleh UNESCO sebagai "As a Creative City of Music" dan juga tempat lahirnya industri alat music seperti Yamaha, Kawai dan Roland. Konser musik ini sebagai salah satu cara Kota Hamamatsu menyumbang dunia musik dengan pertukaran musik-musik dari seluruh dunia. Konser music klasik dimainkan oleh Hamamatsu Philharmonic Orchestra dengan bintang tamu dari pemusik alat tiup dari Berlin Philharmonic Orchestra. Komposisi yang dimainkannya adalah Dvorak' op 44 (yang memang khusus untuk alat tiup) dan op 88. O iyah, Philharmonic Orkestra itu istilah untuk orkestra lengkap para pemain musiknya, mulai dari alat tiup, alat gesek, drum dan dipimpin oleh seorang konduktor/dirijen. Nah, kalo di taman-taman Jakarta ada musik orkestra dan Mas Addie MS sebagai konduktor (dirijen) juga boleh disebut dengan Philharmonic Orchestra.

 photo IMG_1446_zpsbtlnjr8a.jpg

Menonton musik klasik itu pengalaman yang paling menakjubkan, setidaknya sekali dalam seumur hidup pernah mengalaminya. Alunan permainan music yang saling bergantian, menonton betapa seriusnya para pemusik, akustik yang prima, dan musik secara live. Terkadang ada efek yang menyenangkan, menakjubkan, romantis dari musik klasik.(Bahkan seakan-akan Valak hadir pun bisa hahhhahah)

Tapi terkadang orang menilai bahwa musik klasik itu miliknya golongan tertentu, padahal nggak gitu-gitu amat sih. Jika para musisi menggunakan jas ataupun busana terbaik itu karena mereka ingin terlihat lebih rapih untuk para penontonnya.

 photo IMG_1423_zps90hpqrx9.jpg

Menonton muski klasik itu mengasikkan asal kita mengetahui tata caranya. Ada beberapa tata tertib yang berlaku secara internasional dalam menikmati musik ini. Contohnya saat permainan musik berlangsung kita diharuskan :

1. Tenang, tidak berisik, tidak ribut. Karena pemain musik ingin berkonsentrasi, suara dapat membuyarkannya.
2. Tidak melakukan kegiatan apapun kecuali mendengarkan dan menikmati musik.
3. Jangan bertepuk tangan sampai musik selesai dimainkan. Ini hal yang susah saya ikuti. Jadinya saya suka sabar menanti orang lain dan jadi follower dalam bertepuk tangan. Nggak lucu aja saya tepuk tangan sendiri... muke mo ditaro dimane.....

 photo IMG_1428_zpsff9wvelx.jpg

Nonton musik klasik juga memisahkan kita dari gadget dan handphone. Tidak diperkenankan untuk merekam, memotret (selfie lover, big no ya) ataupun live dari konser hall (hahhaha saya ateul pengen facebook live saat itu). Selain menggangu orang lain, pemain musik, hal-hal tersebut diatas juga illegal dilakukan. Ada tindak pidananya lho. Jadi, nonton konser musik klasik memang saatnya menikmati hidup saat itu jauh dari segala gangguan. (dan biasanya saya tidur terlelap...)



  


  • Posted by Junita Siregar at 17:55Comments(14)JapanLifestyle

    2016/09/22

    Mural ekspresi kebahagiaan urang Bandung

    Memberikan kebahagiaan ternyata banyak sekali caranya, mulai yang sederhana sampai dengan yang ngejelimet dilakukan orang-orang demi kebahagiaan. Tapi gimana caraya sebuah kota memberikan kebahagiaan untuk warganya? Bandung punya gawe, melibatkan ratusan anak mudanya membuat mural sepanjang 476 meter di dinding Jalan Siliwangi.

    Mural adalah cara menggambar atau melukis di atas media dinding, tembok atau permukaan luas yang bersifat permanen lainnya. Berbeda dengan grafiti yang lebih menekankan hanya pada isi tulisan dan kebanyakan dibuat dengan cat semprot maka mural tidak demikian, mural lebih bebas dan dapat menggunakan media cat tembok atau cat kayu bahkan cat atau pewarna apapun juga seperti kapur tulis atau alat lain yang dapat menghasilkan gambar.
    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



    Proyek dengan tema Journey of Happiness ini melibatkan berbagai komunitas kreatif dan seni Bandung dengan pesan menyampaikan kebahagiaan kepada orang Bandung yang lewat jalan Siliwangi. Yang bukan orang Bandung juga boleh kok ikutan hepi imenikmati jalan siliwangi yang rindang dan nanjak.



    Bike to Work Bandung sebagai salah satu komunitas yang diundang untuk membagi kebahagiaan ini juga menyumbangkan mural dengan tema batik sepeda. Konsepnya dibuat oleh Kak/ Mas/ Bapak Andi Yudha yang dikenal sebagai tukang gambar, tukang dongeng, dan juga sebagai pawang ular (demikian yang tertera di kartu namanya). Dan beliau juga sebagai tim konseptor di proyek ini bersama dengan John Martono, Alga Indria dan IA ITB.



    Mural dibagi kedalam tiga segmen besar yaitu, Local Genius menceritakan tentang kekhasan Kota Bandung seperti kuliner, fashion, dan seni budaya. Sementara Bandung Futuristik menceritakan Bandung ke depan mau jadi apa. Kemudian untuk Back to Nature menceritakan Bandung sebagai model kota alam yang lestari.Keseluruhan segmen tersebut terbagi dalam 47 gambar.



    Seluruh partisipan Bike to Work Bandung bekerja sama menyelesaikan proyek ini dalam rentang waktu dua hari. Kegiatan yang penuh kebahagiaan ini dilakukan dengan suka cita demi menyebarkan rasa gembira untuk orang-orang yang melihat dan melaluinya



    Gambar dan motif batik Bike to Work ini sama dan sebangun dengan batik seragam yang dimiliki oleh komunitas pesepeda ini. Bike to work masuk ke dalam segemn Back to Nature sesuai dengan misi yang diembannya, memasyarakatan sepeda sebagai alat transportasi urban yang ramah lingkungan (dan ramah di kantong). Tiap helai daun berisikan gambar sepeda sebagai peralatan wajib Bike 2 Work dalam mengurangi polusi kota.



    Finishing touch mural ini tetap dilakukan oleh Mas Andi, karena menyangkut detail-detail gambar dan juga konsep-konsep dasar yang dipahami oleh Tukang dongeng Oray ini.




    Sim salabim, prok...prok..prok jadi apa......
    Yeay, muralnya udah jadi dan cantik. Oke banget nggak sih buat foto-foto disini., Tuhhhh para partisipan Bike 2 Work bergaya di depan mural hasil kerja bersama. Keren kan... Sayangnya saya sebagai ex pemegang KTP Bandung dan anggota gerombolan nggak bisa ikutan berpartisipasi dan berfoto bersama, padahal mupeng berat tuh. Nah, temen-temen yang kebetulan melintas di Jalan SIliwangi Bandung, jangan lupa ya buat melihat dan merasakan kebahagiaan dari gambar mural ini. Semoga bisa menambah semangat hari.....

    (Sumber & Foto : Gerombolan siberat "Bike2Work" chapter Bandung tercintah)
      


  • Posted by Junita Siregar at 16:53Comments(12)Lifestyle

    2016/09/17

    Back to the future.... SCMAGLEV and railway park museum

    Sisa satu tiket juhachi-kippu, diakhiri dengan manis bersama teman kampus dengan tujuan SCMAGLEV & Railway Park, Nagoya. SCMAGLEV & Railway Park adalah museum kereta milik JR (Japan Railway) yang memiliki koleksi kereta cepat mulai dari kereta api, elektrik sampai ke teknologi terkini, magnetik. SCMAGLEV adalah singkatan dari super conducting magnetic levitation. Yap bener...seperti foto levitasi yang melayang. Jadi kereta shinkansen itu nggak punya roda seperti kereta konvensional, tapi melayang diantara relnya menggunakan super konduktor magnet, sehingga bisa melaju sekencang-kencangnya.



    Untuk bisa sampai kesini, kami memulai perjalanan dari Hamamatsu Eki ke Nagoya Eki lalu meneruskan perjalanan dengan menggunakan kereta Aomori line menuju Kinjufuto Eki dengan harga 350Y sekali jalan. Dari Kinjufuto Eki, museum sudah kelihatan bentuk dan rupanya. Harga tiket museum dibandrol untuk dewasa 1000Y, anak-anak 500Y. Jika beruntung, bisa mendapatkan undian untuk ikut simulator shinkansen dan kereta konfensional.



    Setelah membeli tiket, memasuki gerbang awal, disuguhi langsung oleh 3 buah kereta legendaris Jepang, yaitu Tsubame C62, Shinkansen 300 dan Shinkansen MLX01-1. Ketiganya merupakanpemegang rekor kecepatan dengan tahun dan jenis yang bebeda. Tsubame kereta api/ uap, sedangkan shinkansen menggunakan daya listrik dan magnetik. Kita bisa masuk kedalam kereta-kereta ini dan menikmati interior dalamnya.

    rekord

    Setelah itu kita memasuki ruangan Great Rolling Stock Hall, tempat dimana seluruh koleksi kereta di pamerkan. Untuk kenang-kenangan, kita diperbolehkan berfoto di depan shinkansen dengan tanggal yang telah tersedia. Tadinya sih kita mo gaya biasa-biasanya, cuman si Mbaknya nyuruh eksyen dengan gaya hormat. Hahahahha jadinya ya kayak gini ini nih gaya kita berfoto... Keren pisan yah hihihihihi

    threestooges

    stock

    Di area ini kita bisa puas melihat kereta luar dalam mulai dari seri kereta klasik sampai shinkansen yang terbaru, bahkan yellow shinkansen aka dr yellow pun ada. Favorit saya adalah kereta shinano, kereta special rapid yang jendela sangat lebar. Paling asik naik kereta ini ke arah Nagano melintasi pegunungan Japan Alps, sungai yang bersih dan danau yang tenang. Mata jadi seger.....





    klasik

    Pemerintah Jepang sangat serius dengan transportasi kereta, karena dengan sarana ini dapat menghubungkan seluruh daerah baik di kota maupun di pelosok. Selain itu dengan kemampuan menampung penumpang yang sangat banyak, kereta menjadi andalan untuk transportasi massal.



    Salah stu ikon menarik disini adalah dr yellow, yang merupakan shinkansen pemeriksa jalur dan rel yang dilalui oleh shinkansen. Dr yellow tidak membawa penumpang, tapi membawa peralatan pemeriksa keselamatan. Kehadirannya yang tidak setiap hari membawa kepercayaan bahwa orang yang melihatnya dalam perjalanan berarti mendapat keberuntungan :)
    Selain itu di area koleksi shinkansen juga ada miniatur tiket counter,cara shinkansen bekerja, sampai kursi green car (kelas eksekutif) jadi disini kita bisa mendapatkan pengalaman mulai dari membeli tiket sampai merasakan duduk di kursi nyaman. Pokoknya sarat dengan pengetahuan deh.





    Museum ini penataannya keren dengan menggunakan cahaya alami.Jadi kalo kesorean kebayang jadi gelap dan nggak bisa liat koleksi dengan maksimal. Selain itu, museum ini mempunyai diorama stasiun di kota-kota besar jepang yang dilalui oleh shinkansen. Nah buat yang kehausan dan kelaparan jangan khawatir ada cafe, vending machine dan souvenir shop yang bisa dijajaki untuk membeli omiyage untuk keluarga tercinta di rumah.



    Yuk yang mau mampir sini saya anter.... soalnya beneran saya nggak ada bosennya untuk berkunjung kemari.
      


  • Posted by Junita Siregar at 11:41Comments(12)Japan

    2016/09/08

    Marathon Hunting Gotochi di Tiga Prefektur

    Hari ini selepas arubaito (kerja part-time) dan mumpung kuliah belum mulai, saya memulai petualangan mencari gotochi. Untuk yang suka sama postcard unik pasti tidak asing dengan istilah gotochi. Gotochi artinya lokal tapi sekarang jadi istilah kartupos berbentuk unik dengan gambar khas masing-masing prefektur di Jepang. Cara mendapatkannya pun harus mendatangi kantor pos yang berada di prefektur tersebut. Saya kenal istilah gotochi dari Una dan Kak Monda, mereka berdua penggemar berat kartu pos unik dari seluruh dunia.



    Nah, mumpung juga sisa tiket juhachi kippu belum ED (date line tanggal 10 ini, alamat harus dipake cepet-cepet daripada hangus) perencanaan dimatangkan. O iya juhachi kippu ini karcis serba 11.850Y untuk kereta JR ke seluruh sudut jepang, cuman ya nggak bisa pake shinkansen, pake kereta lokal aja yang agak-agak lama. Satu lembar tiket bisa dipake lima orang atau lima kali (hari) perjalanan kereta. Dijual selalu pada pergantian musim yang pasti tanda liburan dimulai.



    Okay tujuan saya hari ini berburu ke perfektur Gifu, Aichi dan Nagano. Saya ngebolang sendirian karena saya punya target untuk mengejar gotochi dari ke tiga prefektur tersebut. Untuk menghemat waktu, saya googling kota mana saja yang bisa saya lewati dalam satu hari ini. Akhrnya keluarlah tiga nama kota, Tadachi di Nagano, Nakatsugawa di Gifu dan Nagoya di Aichi. Dan ternyata...perjalanan kurang sedikit mulus hehehhehe ada masalah teknis tapi bikin pelajaran untuk hunting berikutnya. Hmmmm kita mulai ceritanya aja deh...

    Pertama, saya naik kereta dari Sta. Hamamatsu ke Nakatsugawa setelah 3 kali berganti kereta. Sengaja nyari kereta yang perhentiannya terakhir, karena saya pulang baito suka tertidur, jadi nggak akan bablas. Nakatsugawa ternyata kotanya asri, pemandangan gunungnya okay banget, terus masih banyak bangunan tua khas Jepang jaman Edo. Kota ini terkenal dengan kegiatan hiking nya. Hmmm kalo waktunya luang boleh juga deh saya keliling disini....



    Saya tidak sempat berlama-lama, karena tujuan saya mencari kantor pos terdekat. Voila, ketemu kantor posnya dan cukup besar. Beli seri gotochi Gifu. Yey...senangnya. Mana ada rumah gassho style khas Shirakawago.

    nakatsugawa

    Berikutnya ngejar kereta ke Tadachi-Nagano, yang ditempuh 12 menit perjalanan dari Natsugawa. Keretanya unik karena One-Man train dan stasiunnya nggak ada penjual tiket, jadi pembayaran diatas kereta. Lupa, kenapa nggak dibikin videonya ya.... Misi disini gagal..... saya tidak mendapatkan satupun gotochi Nagano Ken, akhirnya untuk partai hiburan saya beli gotochi nama kantor pos Tadachi aja deh. Ternyata, kalo kantor posnya di kota kecil, nggak selalu tersedia gotochi lengkap. Pelajaran penting, carilah gotochi di kantor pos kota besar, minimal stasiunnya ada tukang tiketnya hehehhehehhe.

    tadachi

    stasiun



    Karena Nagano nggak menghasilkan banyak gotochi, dan badan mulai cape, akhirnya diputuskan saja ke Toyohashi daripada Nagoya. Karena hasil pertimbangan kereta Toyohashi-Hamamatsu hanya sekitar 30 menit, badan juga udah cape. Udah hasil ngitung waktu tuh....eh meleset setengah jam deh. Gegara salah keluar arah stasiun tuh, jadinya dobel perjalanan. Si google map lagi diem aja udah tau kesasar jauh. Akhirnya jarak yang harusnya 800,m, jadi dobel deh 1,6Km mana sisa panas masih ada. Tapi di Toyohashi, keselnya kebayar. Ibu penjaga nya baek banget ngasih bonus mini gotochi empat plus dapet objek foto yang bagus-bagus. Pelajaran lagi....jangan percaya google map 100 persen dan kalo badan udah cape mending istirahat, pasti nyasar.



    aichi



    Nah, itu hasil hunting dan kunjungan ke kantor pos saya hari ini. Kayaknya hasilnya belum bisa nyaingin punya Una euy, kurang banyak kotanya. Hmmm lirik juhachikippu yang sisa satu lagi...kemana lagi kah kaki ini mau aku ajak melangkah? Punya ide?



    Buat temen-temen yang minat sama Gotochi, bisa intip koleksi gotochi untuk seluruh jepang di postacollet (https://www.postacollect.com/). Semoga menginspirasi dan ikut koleksi gotochi juga, minimal menginspirasi oleh-oleh dari Jepang yang berkesan. Harga gotochi perlembarnya sama rata 185yen. Hmmmm Indonesia kapan yah punya gotochi, padahal kekayaan alam dan budaya indonesia mungkin lebih keren dibuat gotochi, juga bisa kembali membuat budaya berkirim surat kembali marak di Indonesia. Hayo, kita mulai mengirim kartu pos lagi...


      


  • Posted by Junita Siregar at 09:56Comments(16)Japan

    2016/09/04

    Dongeng dan Vladimir Propp

    Dunia ini, panggung sandiwara, ceritanya mudah dibaca... itulah penggalan lagu Panggung Sandiwara yang dipopulerkan oleh Ahmad Albar. Heheheh jadul bener ya... tapi bukan Mas Kribonya yang pengen saya bahas, tapi perkataan bahwa setiap cerita sangat mudah dibaca. Nggak percaya? eittt tunggu dulu. Ini beneran ilmiah lho. Sebetulnya secara nggak sengaja saya mendapatkan pengetahuan ini dari pelajaran Advanced Media Communication. Salah satu teman saya mempresentasikan bagaimana teori struktualisme dari Vladimir Propp ini diterapkan pada saat kini dalam membandingkan anime klasik dan anime pop.



    Dalam bukunya Morphology of the fairytales yang ditulis tahun 1928,Vladimir Propp mengemukakan bahwa seluruh dongeng (Eropa) yang pernah ditulis mempunyai persamaan struktur narasi dan fungsi karakter. Masing-masing karakter mempunyai fungsi narasi tersendiri yang membangun struktur jalan cerita. Dan ternyata teori beliau masih tetap relevan sampe sekarang dan masih dipergunakan untuk membandingkan dan membuat skenario film, cerpen, bahkan buku cerita anak-anak.



    Karakter dasar dari sebuah cerita/ dongeng menurut Propp terbagi atas :

    1. The villain —Karakter jahat yang menyebabkab kesultian untuk si jagoan.
    2. The dispatcher —Karakter yang meminta bantuan jagoan untuk melakukan misinya.
    3. The helper — Karakter yang membantu jagoan menjalan misi.
    4. The princess or prize, and often her father — Sang Jagoan pada akhir misinya biasanya mendapatkan putri atau hadiah atas perjuangannya mengalahkan si jahat.
    5. The donor —Karakter yang membantu jagoan dengan memberikan sesuatu, misalnya kekuatan, sihir, peralatan untuk menjalankan misi.
    6.The hero — Si Jagoan, karakter yang menjalankan misi, mengalahkan jagoan dan menikahi sang putri.
    7.The false hero — Tokoh yang mendompleng ketenarang sang jagoan dan berusaha mengambil putri dan hadiah untuk dirinya sendiri.
    8. The Father. Biasanya ayah dari princess

    Selain itu ada 31 narrateme (unit naratif) yang membangun jalannya cerita yang terbagi dalam tabel seperti ini :



    1. ABSENTATION
    2. INTERDICTION
    3. VIOLATION of INTERDICTION.
    4. RECONNAISSANCE
    5. DELIVERY
    6. TRICKERY
    7. COMPLICITY
    8. VILLAINY or LACKING
    9. MEDIATION

    10. BEGINNING COUNTER-ACTION
    12.FIRST FUNCTION OF THE DONOR
    13. HERO'S REACTION
    14. RECEIPT OF A MAGICAL AGENT:
    15. GUIDANCE
    16. STRUGGLE
    17. BRANDING
    18. VICTORY
    19. LIQUIDATION

    20. RETURN
    21. PURSUIT
    22. RESCUE
    23.DIFFICULT TASK
    26. SOLUTION
    27. RECOGNITION
    28. EXPOSURE
    29.TRANSFIGURATION
    30. PUNISHMENT.
    31. WEDDING.

    8 karakter utama yang dikemukakan oleh Propp biasanya dijadikan dasar untuk menilai ataupun membandingkan cerita/ skenario. Kali ini saya iseng saja membandingkan skenario Shrek, Ramayana dan The Heirsnya Le Min Ho.

                                 Shrek                    Ramayana    The Heirs
    The Hero             Shrek                        Rama          Kim Tan
    The False Hero    Prince Charming             -            Kim Won, Young Do
    The Villain Lord    Farraquard              Rahwana     Jung dong Hwan
    The Dispatcher    -                                -                 Kim Sung-ryung
    The Donor           The Muffin Man         Hanoman                -
    The Princess        Fiona                       Sinta            Eun Sang
    The Father          Bapaknya Fiona          Janaka      Kim Mi Kyung (ibunya)
    The Helper          Donkey                    Lesmana      Kang Ha Neul

    Masih nggak percaya? yuk coba bandingkan film korea, film hollywod ataupun sinetron GGS. bikin tabel nya dan voila..... pasti Bapak Propp bener kan. Minat...ayo mulai dipraktekkan.....

    Teori Propp juga digunakan untuk membangun sebuah alur cerita. Dalam membangun jalan cerita kita dapat memilah-memilah tokoh dan fungsi narasi yang diinginkan seperti langkah diatas. Nah kalo soal keseruan, resep dan bumbunya ada ditangan masing-masing. Teori Propp hanya menyediakan bahan dasarnya saja, cara pengolahan dikembalikan kepada sang koki...sang masterchef.

    Nah kalo udah jagoan, bisa menggunakan tabel periodik dibawah ini untuk membantu penulisan lebih seru lagi lho.





      


  • Posted by Junita Siregar at 09:47Comments(20)Serba-serbi Kampus